Orasi Politik Agus Harimurti Yudhoyono (selesai)

AHY: Apa Kabar Revolusi Mental?

AHY: Apa Kabar Revolusi Mental?
tribunnews.com

Sebenarnya, pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, sebagian besar rakyat menaruh harapan kepada program pembangunan manusia Indonesia. Ketika pemerintah saat ini berhasil membangun ribuan kilometer jalan, ratusan jembatan, dan proyek infrastruktur lainnya, lantas, kita patut bertanya: “Apa kabar, Revolusi Mental?”

MODUSACEH.CO | Kita ingat, Revolusi Mental adalah konsep pembangunan manusia Indonesia yang gencar dijanjikan di saat kampanye Pilpres 2014. Dalam perjalanannya, nampaknya kurang mendapatkan perhatian kita semua. Kita larut dalam hiruk pikuk pembangunan infrastruktur. Padahal, konsep ini sangat vital sebagai upaya mengembalikan karakter bangsa sesuai bentuk aslinya, yaitu karakter yang santun, berbudi pekerti, dan bergotong royong. Karakter yang tentunya menjadi kekuatan dalam membangun Indonesia yang kokoh dalam persatuan, dan sejahtera dalam kemajuan.

Menurut saya, pembangunan karakter bangsa ini yang harus terus menerus dilakukan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. It is a never-ending journey. Karena perubahan, perbaikan, dan pembaharuan adalah keniscayaan yang abadi.

Terkait dengan karakter bangsa tadi, saya berpendapat; Ramadhan adalah sarana latihan yang tepat untuk membangun karakter diri dan bangsa ini. Kita kembali diingatkan tentang ilmu dan rumusan kehidupan bahwa segala sesuatunya selalu ada batasan dan kepatutannya.

Jika tangan ini bagaikan kayu, kemudian diberi beban 10 Kg, kayu ini tetap kokoh. Jika bebannya ditambah menjadi 20 Kg, kayu ini tetap dapat menopang beban itu. Ketika beban ditambah lagi menjadi 30 Kg, mulai terdengar bunyi “Krek!” Lalu, ketika beban itu bertambah menjadi 40 Kg, seketika kayu itu patah.

Itulah analogi rumusan tentang batasan. Baik batas atas, maupun batas bawah. Di bulan suci ini, kita melatih diri untuk makan di waktu Sahur, ketika perut belum merasa lapar. Dan berhenti makan ketika waktu Subuh telah tiba. Ketika kita merasa lapar dan haus, kita tidak boleh makan dan minum sebelum adzan Maghrib tiba. Intinya, makan dan minum ada batasnya. Begitu pula dengan lapar dan haus, ada batasnya.

Jikalau  kita tidak mengetahui dan merasakan sendiri, bahwa lapar ada batasnya; kita tidak akan peduli dan memahami mengapa ada orang mencuri di negeri ini hanya untuk sekadar mengisi perutnya dan juga perut anak-istrinya yang kosong. Ingat, orang-orang yang lapar sanggup, dan akan melakukan apapun untuk mempertahankan hidupnya dan orang-orang yang dicintainya. Tidak peduli benar atau salah, baik atau buruk.

Pemahaman atas batasan-batasan ini, akan mendorong kita untuk peduli dan beramal kepada sesama tanpa melihat perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan. Inilah yang kita wujudkan dalam bentuk zakat, infaq, dan sedekah.

Sebagai kelompok masyarakat mayoritas di negeri ini, umat Islam memiliki tanggung jawab moral terbesar untuk mengatasi persoalan-persoalan mendasar di masyarakat. Karena kelaparan, kebodohan, serta kemiskinan dan ketimpangan, bukan hanya diderita umat Islam saja, tetapi juga umat-umat yang lain di negeri ini.

Tanggung jawab moral ini yang mengantarkan kita pada hakikat Islam sebagai “Rahmatan Lil Alamin” – rahmat bagi semesta alam. Hal ini, merupakan wujud kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad SAW dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Selain itu, kepedulian dan semangat berbagi ini, merupakan wujud pengamalan sila ke-5 dari Pancasila. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini cerminan bahwa pengamalan Pancasila sejatinya, harus tumbuh dari bawah ke atas, tidak hanya didikte dari atas ke bawah.

Jika makan dan minum ada batasnya, lapar dan haus ada batasnya, hawa nafsu ada batasnya, mengapa kemiskinan di negeri ini tidak ada batasnya? Egoisme tidak ada batasnya? Dan bahkan, seolah-olah kekuasaan tidak ada batasnya?

Pastilah semua ada batasnya. Jika melebihi batas, maka akan patah seperti kayu tadi. Inilah mengapa, sepuluh tahun yang lalu, dalam situasi krisis ekonomi global 2008, di era kepemimpinan Presiden SBY yang didukung penuh oleh Partai Demokrat, pemerintah memberikan Bantuan Langsung Sementara kepada saudara-saudara kita yang berkategori miskin. Besarannya adalah 300 ribu rupiah per bulan, per keluarga.

Angka 300 ribu rupiah ini, merupakan batas bawah untuk memenuhi kebutuhan dasar sebuah keluarga, berdasarkan hasil penelitian Badan Pusat Statistik (BPS). Jadi, jika ada pihak-pihak yang bersuara bahwa memberikan Bantuan Langsung Sementara kepada rakyat miskin ini sebagai proses yang tidak mendidik, berarti mereka tidak memahami atau bahkan tidak peduli dengan rumusan kehidupan tentang batasan tadi.

Bagaimana kita mau mendidik masyarakat ketika perutnya lapar? Ketika kaum ibu menangis karena tidak mampu membeli susu untuk anaknya. Karena itu, dalam sisa waktu Ramadhan ini, saya mengajak kepada diri sendiri dan kita semua, untuk terus mempelajari dan memahami rumusan kehidupan tentang batasan-batasan tadi. “Pemahaman ini yang akan mencerahkan kita, tentang etika, koridor baik atau buruk, patut atau tidak patut, serta hak dan kewajiban. Pemahaman ini pula, yang akan membangun kesadaran beretika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” tegas AHY.

20180611-ahy8

Dalam konteks  kebebasan individu juga ada batasnya. Kebebasan bukan berarti kebablasan. Kebebasan individu harus diletakkan dalam kerangka besar kepentingan bangsa dan negara. Demikian pula dengan kekuasaan, dalam konteks tata negara, kekuasaan tidak tak terbatas. Tidak boleh bersifat absolut. Kekuasaan ada batasnya. Jangan menghalalkan segala cara. Negara dan pemerintah tidak boleh sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya untuk merampas kebebasan individu.

“ Jika para pemimpin menghormati dan menyayangi rakyatnya, maka rakyat juga akan menghormati dan menghargai para pemimpinnya. Kondisi seperti ini, harus sama-sama kita wujudkan demi kokohnya persatuan dan kerukunan bangsa serta, demi cita-cita besar kita bersama”.

Persatuan dan kerukunan merupakan fondasi dari stabilitas politik, sosial, dan keamanan nasional. Ini memberi ruang dan kesempatan kepada pemerintah dan seluruh elemen bangsa untuk mengatasi persoalan ekonomi, maupun berbagai persoalan krusial rakyat lainnya. Terjaganya stabilitas politik, sosial, dan keamanan inilah, yang menjadi kunci keberhasilan pemerintahan Presiden SBY yang didukung penuh oleh Partai Demokrat dalam menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan merata selama 10 tahun kepemimpinannya.

Ingat, pertumbuhan ekonomi tidak bisa berdiri sendiri dan tidak bisa berjalan dengan sendirinya. Persoalan ekonomi selalu berkait dengan stabilitas politik, sosial, dan keamanan. Bayangkan, apakah mungkin roda ekonomi akan bergerak ketika pembeli takut pergi ke pusat perbelanjaan akibat ancaman bom di tempat keramaian? Ketika penjual takut ke pasar untuk berdagang akibat maraknya penjarahan karena krisis sosial? Karena itu, Partai Demokrat tidak memberikan toleransi kepada pihak manapun yang ingin memecah belah persatuan dan melukai kerukunan bangsa, karena hal ini akan mengganggu stabilitas politik, sosial, dan keamanan. Sekali lagi, kita tidak memberikan toleransi kepada pihak manapun yang ingin memecah belah persatuan dan melukai kerukunan bangsa dengan isu atau narasi apapun.

Inilah dasar pemikiran dan ikhtiar Partai Demokrat untuk menjadi bagian dari solusi atas keluhan dan permasalahan rakyat saat ini. Sudah sepatutnya, hajat hidup rakyat sendiri menjadi nyawa dari perjuangan kita dalam berpolitik. Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Mari, kita manfaatkan momentum Ramadhan ini untuk mengingat kembali hakikat hidup manusia, “Khoirunnas Anfa ‘Uhum Linnas” yaitu sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Tidak sepatutnya, kita hanya duduk membahas permasalahan tapi tidak memikirkan jalan keluarnya. Sekali lagi jangan diam! Do something!

Untuk membantu meningkatkan daya beli masyarakat, dua hari lalu, kita luncurkan program: “Gerakan Nasional Pasar Murah Partai Demokrat”. Pasar Murah ini, Insya Allah akan kita gelar pada tanggal 14 setiap bulannya di seluruh provinsi. Tujuan utama dari Pasar Murah ini adalah untuk mendorong tumbuhnya semangat berbagi, dari kelompok masyarakat yang mampu agar ikut membantu masyarakat yang tidak mampu. Paling tidak, ikhtiar ini dapat meringankan sebagian rakyat kita dari tekanan ekonomi yang mereka alami sehari-hari.

Kemudian, berkaitan dengan isu-isu kritis di bidang politik, sosial, dan keamanan; kami berpendapat, perlunya diadakan dialog atau“Rembug Nasional”, lintas partai, lintas identitas, dan lintas generasi, untuk memikirkan solusi yang tepat dan terbaik untuk rakyat.

Kita perlu membangun karakter bangsa yang mengakar pada nilai-nilai Ketuhanan dan jati diri bangsa yang luhur. Secara bersamaan, kita bangun generasi bangsa yang memiliki kapasitas intelektual dan kompetensi yang unggul. Keduanya merupakan kunci dalam memenangkan Indonesia pada kompetisi global Abad 21. Dengan upaya ini, Insya Allah, Indonesia akan mencapai sebuahperadaban yang tinggi dan mulia, dimana seluruh rakyatnya bisa menikmati kehidupan yang aman, damai, adil, maju, dan sejahtera.

Kita sadar, ini bukan pekerjaan semalam. Kita tidak tahu apakah kita masih hidup atau tidak untuk menyaksikan hasilnya. Tetapi, jika kita tidak memulainya, mustahil kita berharap hasil. Hasil tidak pernah mengkhianati usaha. “Yang sudah baik, lanjutkan! Yang belum baik, perbaiki"! Dan yang lebih penting lagi. “Negara adil, rakyat sejahtera”.***

Komentar

Loading...