Adakah Hubungan Ilmiah Silaturrahmi dan Panjang Umur? (Dr. Mahlil Ruby M.Kes)

Adakah Hubungan Ilmiah Silaturrahmi dan Panjang Umur? (Dr. Mahlil Ruby M.Kes)
Istimewa/MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Roseto Valfortore terletak 160 kilometer sebelah tenggara Roma, persis di kaki bukit Apennine di Provinsi Italia Foggia. Dengan gaya desa abad pertengahan, kota ini dikelilingi sebuah alun-alun besar. Penduduknya bekerja di pertambangan marmer dan bertani dengan lahan bertingkat. Mereka hidup dalam kemiskinan.

***

Pada 1882, 11 laki-laki berlayar ke New York dan mendapat pekerjaan di Bangor, Pennsylvania. Kemudian, mereka kirim kabar ke Roseto tentang dunia dan harapan baru. Nah, pada 1894, imigran Roseto membanjiri Amerika. Lalu, mereka membangun desa yang mirip Roseto pada suatu bukit yang terhubung dengan Bangor. Mereka namakan Roseto juga. Daerah baru ini dikembangkan dengan berbagai area ekonomi baik di lahan pertanian, industri maupun perkarangan rumah.

Pada saat Stewart Wolf seorang dokter ahli pencernaan dan dosen pada Universitas Oklahoma menghabiskan waktu liburannya di pertanian dekat Pennsylvania. Wolf diundang oleh Asosiasi dokter lokal untuk berceramah ilmiah dan setelah ceramah itu, dia diundang salah seorang dokter lokal untuk diskusi sambil minum ringan. Dokter lokal tersebut menyatakan, orang  Roseto tidak pernah terjadi serangan jantung di bawah 65 tahun. Pernyataan ini merangsang Wolf untuk meneliti lebih lanjut.

Temuan awal yang mengherankan Wolf adalah, tidak satu orang pun penduduk Roseto yang mati di bawah 55 tahun, karena jantung dan tanda-tanda gejala penyakit jantung. Kejadian penyakit jantung dan kematian di atas 65 tahun juga tiga kali lebih rendah dari penduduk Amerika lainnya. Wolf membawa ahli sosiolog untuk meneliti lebih lanjut di desa Roseto. Temuannya mengejutkan juga,  yaitu tidak ada penduduk Roseto yang bunuh diri, ketergantungan obat dan alkohol, sangat rendah kriminalitas, dan tidak ada penyakit tukak lambung.

Wolf menduga status kesehatan penduduk Roseto berhubungan dengan diet, ternyata diet orang Itali tersebut lebih tidak sehat dibandingkan dengan penduduk Amerika yang lain. Bahkan 41 persen kalori orang Roseto dari lemak. Mereka juga tidak melakukan Yoga dan olah raga lari sampai 10 kilometer. Penduduk Roseto adalah perokok berat dan obesitas. Status kesehatan mereka tidak berhubungan dengan diet dan aktifitas fisik. Kemudian dia lacak faktor genetiknya orang Roseto dengan melihat orang Roseto yang tinggal pada daerah lain di Amerika.

Hasilnya, Wolf tidak menemukan riwayat genetik karena orang Roseto daerah lain mengalami penyakit yang sama dengan penduduk Amerika lain. Jadi, baiknya status kesehatan penduduk Roseto bukan faktor keturunan. Wolf mengkaitkan dengan daerah atau geografis karena mereka tinggal di kaki bukit sehingga memberikan lingkungan yang sehat. Namun dugaan ini salah juga karena ada daerah Nazareth yang sama dengan daerah Roseto, dihuni oleh imigran Eropa tetapi tidak memiliki kondisi kesehatan yang sama dengan Roseto. Wolf makin bingung dengan misteri dari Roseto.

Dalam kebingungannya, Wolf pergi berjalan-jalan bersama temannya ke Roseto dan terbukalah mata Wolf ketika melihat kehidupan sosial penduduk Roseto. Wolf melihat bagaimana keluarga Roseto saling mengunjungi satu sama lain, jika berpapasan, mereka berhenti untuk mengobrol bahasa Itali di jalan, atau memasak satu sama lain di halaman belakang rumah mereka.

Wolf belajar tentang keluarga besar yang mendasari struktur sosial kota. Mereka melihat berapa banyak rumah memiliki tiga generasi yang tinggal di bawah satu atap. Mereka pergi ke misa di Our Lady of Mount Carmel dan melihat efek pemersatu dan menenangkan gereja. Masyarakat kaya membantu orang-orang yang gagal dalam komunitas Roseto. Wolf menyimpulkan bahwa, untuk hidup yang panjang, para ahli selalu merekomendasi kepada kita dalam pendekatan konvensional yaitu,  siapa diri kita-yaitu gen kita; keputusan yang kita buat-tentang apa yang kita pilih untuk dimakan. Seberapa banyak kita berolahraga, dan seberapa efektif kita dirawat oleh sistem kesehatan. Banya ahli lupa bahwa hidup berumur panjang sangat ditentukan oleh komunitas.

Silaturahmi dan Panjang Umur

Misteri Roseto telah membenarkan hadis Nabi Muhammad S.A.W yang diriwayatkan Bukhari. Artinya: “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” (Shahih Bukhari No.2067). Surat An-Nisa ayat 1 juga memerintahkan memelihara hubungan silaturahim (silaturahmi).

Beberapa surat dalam Al-Quran menyuruh silaturahmi dalam lafadz yang lain seperti Surat an-Nahl ayat 90, Surat Al-Isra ayat 26, Surat ar-Rum ayat 38 dimana intinya adalah memperhatikan kerabat dekat. Sayangnya, penduduk muslim mulai menjauh dari kehidupan sosialnya sebagaimana perintah Al-qur’an dan Hadis tersebut. Kehidupan modern yang penuh persaingan dan kesibukan, telah menjauhkan kehidupan  silaturahmi. Bahkan, banyak diantara kita tidak mengenal tetangga. 

Kita hanya sapa saja tanpa mengajak percakapan panjang lebar, hanya basa basi tanpa keikhlasan atau buru-buru karena alasan kesibukan. Tidak sempat berbagi berbagai cerita kehidupan, makan bersama, dan yang kaya sudah tidak membantu orang-orang yang lemah dalam sosialnya atau kerabatnya.

Bantuan hanya disalurkan kepada lembaga penyalur saja. Akhirnya, kita hidup terasing dalam komunitas kita. Pengalaman penduduk Roseto menerapkan silaturahmi secara kebetulan telah  berdampak kepada umur mereka yang panjang dan sehat.

Memang umur harapan hidup (UHH) bangsa Indonesia telah naik 4 tahun dari 66 tahun pada tahun 2000 menjadi 70,1 tahun pada tahun 2015. Jepang dan Hongkong menjadi Negara yang memiliki umur terpanjang di dunia berturut-turut 83,5 tahun dan 83,3 tahun pada tahun 2015. Sementara Nigeria memiliki unur terpendek sebesar 53 tahun. Naiknya UHH Indonesia merefleksikan keberhasilan pembangunan kesehatan dan ekonomi.

Namun, UHH ini harus ditebus dengan biaya besar. Contoh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS) Kesehatan menunjukkan bahwa 30 persen dari 67 triliun iuran JKN pada tahun 2016, dihabiskan untuk membiayai penyakit-penyakit kronis seperti darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, stroke, penyakit paru tahunan, asma, dan lainnya.

Riset Kesehatan dasar 2007 dan 2013 menunjukkan, kenaikan kasus penyakit kronis yang cukup signifikan selama 6 tahun. Ini suatu ancaman terhadap ekonomi dan sosial bangsa Indonesia. Artinya, Umur harapan hidup yang tinggi tidak menggambarkan tingkat kesejahteraan rakyatnya. Orang berusia tua akan menjadi beban keluarga dan sosial karena harus merawat orang yang menderita penyakit kronis tersebut. Sekali terkena penyakit itu, maka penderita akan membawa serta penyakit tersebut sampai ke liang lahatnya. Jadi, penyakit tersebut belum dapat disembuhkan sampai saat ini. Penderita tergantung dengan obat yang memelihara fisiologis tubuhnya tetap normal.

Silaturahmi telah terbukti berumur panjang dan sehat penduduk Roseto terutama penyakit jantung. Sayang, Kementerian Kesehatan belum menjadikan silaturahmi sebagai bagian Strategi Gerakan Masyarakat hidup Sehat (GERMAS). GERMAS masih menempuh konsep konvensional yaitu melakukan aktifitas fisik, konsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak minum alcohol, perilaku hidup bersih dan sehat, periksa kesehatan yang rutin, dan lingkungan bersih.

Penataan ulang silaturahmi dalam kehidupan modern

Penduduk perkotaan sulit menerapkan kehidupan seperti Roseto karena penduduk di suatu komunitas (desa/rukun tetangga) perkotaan sangat heterogen. Namun heterogen ini masih dapat menjalankan silaturahmi sebagaimana yang dipraktekkan penduduk Roseto. Misal, gunakan waktu pada hari libur terutama pada pagi hari selama dua jam sebagai bentuk silaturahmi seperti berolah raga bersama, makan bersama, atau acara lainnya.

Lalu, datangi komunitas daerah asli untuk menjalin silaturahmi seperti bermain bersama, berbincang dengan bahasa daerah masing-masing, makan bersama, dan lainnya. Momen budaya dan Negara tidak cukup intensif dalam melaksanakan silaturahmi. Momen tersebut terjadi dalam kurun waktu yang lama. Namun momen agama  seperti kegiatan makan pagi dan atau olah raga bersama setelah subuh dapat menjadi alternatif yang efektif.

Mengunjungi kerabat-kerabat lama di daerah dengan frekuensi yang lebih sering dan durasi yang memadai menjadi suatu cara silaturahmi. Mobilisasi bantuan komunitas untuk penduduk/keluarga yang kurang mampu di dalam komunitasnya.Berikan dukungan pengetahuan, akses ekonomi dan lainnya agar keluarga yang kurang berhasil dapat hidup mandiri. Begitu besarnya dampak silaturahmi sehingga orang-orang yang memutuskan silaturahmi akan diganjar Allah SWT dengan berbagai bentuk seperti ditulikan dan dibutakannya (QS Muhammad: 22-23), pemutus silaturahmi tidak masuk surga (hadist diriwayatkan Jubair bin Mut’im), pemutus silaturahmi akan dipercepat siksaan terhadap dosanya (Abu Daud). Allah tidak menerima amal pemutus silaturahmi (Bukhari), rahmat tidak turun bagi pemutus silaturahmi (Bukhari), Pintu langi akan tertutup bagi pemutus silaturahmi (Thabrani).

Bulan suci ramadhan sebagai momentum meraih manfaat ganda, yaitu  sehat karena berpuasa dan sehat bersilaturahmi. Implementasi  kombinasi silaturahmi dan pesan-pesan GERMAS akan dapat mengejar umur panjang bangsa Indonesia seperti Jepang dan Hongkong pada 15 tahun mendatang.  Ayo silaturahmi.*

* Konsultan Kesehatan dan Penasihat Menteri Kesehatan RI

"Pileg dan Pilpres 2019" - pilihan Anda sangat menentukan -

Komentar

Loading...