Breaking News

Duh! Kurun Waktu 81 Hari

Ada 3 Mahasiswa Unpad Gantung Diri

Ada 3 Mahasiswa Unpad Gantung Diri
Ilustrasi gantung diri. (Foto: Mindra Purnomo/detikcom)
Penulis
Sumber
detik.com

Sumedang | Kurun waktu 81 hari ada tiga mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Tiga mahasiswa itu berinisial, MB (23), RWF (24) dan AH (21). Kejadian pertama, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, MB, gantung diri di dalam kamar di rumah kontrakannya yang berada di Perumahan Puri Indah, Jatinangor, Sumedang, Senin, 17 Desember 2018.

Kejadian kedua atau sepekan kemudian, RWP, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, ditemukan tewas gantung diri di kamar indekosnya, Gang Dahlia I, Dusun Sayang, Kacamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Senin 24 Desember 2018.

Kejadian ketiga atau pada Jumat 8 Maret 2019, mahasiswa Fakultas Peternakan, AH, tak bernyawa di dalam indekosnya, Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. AH tewas gantung diri. "Kalau tahun ini, mahasiswa yang meninggal dunia (akibat bunuh diri) di bulan Maret ini yang pertama (kejadiannya). Sebelumnya, sayang sekali ada kejadian yang mirip, mahasiswa meninggal dunia juga Desember. Jadi tiga (kejadian)," kata Kepala Kantor Komunikasi Publik Unpad Syauqy Lukman ditemui di kantor Unpad, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Senin (11/3/2019).

Menanggapi hal tersebut, Syauqy menegaskan, penyebab seseorang menjadi putus asa dan beban hidup berat bukan sekadar masalah akademik saja. Ada faktor lain yaitu masalah pribadi, finansial dan lainnya. "Unpad memberikan sejumlah cara bagi mahasiswa bila ada masalah dapat menyalurkan ke institusi, bisa ke fakultas dulu atau direktorat akademik dan kemahasiswaan. Ada juga Tim Pelayanan dan Bimbingan Konseling (TPBK) di Fakultas Psikologi, yang memberikan layanan bimbingan konseling bila ada mahasiswa memiliki masalah, baik masalah akademik, masalah pribadi dan masalah apapun," tuturnya.

Menurutnya, melalui TPBK ini setiap mahasiswa dapat berkonsultasi terkait masalahnya dengan cara berdiskusi dengan orang yang kompeten di Fakultas Psikologi. Selain TPBK, ada juga Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi (BPIP) berlokasi di Jalan Dago Atas, Kota Bandung. "Semua layanan konseling bagi semua civitas akademika Unpad gratis. Ada syarat dan ketentuan juga prosedur yang harus ditempuh bila ingin mendapatkan layanan tersebut," ucap Syauqy.

Pihaknya enggan menyebutkan terkait permasalahan-permasalahan menerpa tiga mahasiswa Unpad yang nekat bunuh diri tersebut. Menurut dia, tak arif pihak Unpad menyampaikan hal tersebut. Sebab, Syauqy menjelaskan, kewenangan berkaitan kejadian itu ada dari pihak kepolisian dan keluarga. "Kami pribadi dari institusi, menyerahkan kepada pihak kepolisian dan juga dari keluarga," ujarnya.

"Kami bisa jawab terkait rekam jejak akademiknya. Untuk yang terakhir, AH, mahasiswa dari Fakultas Peternakan, rekam jejak akademiknya sangat baik sekali. IPK 3,88, kuliah yang lulus itu sudah 107 SKS, sesuai dengan kurikulum yang berjalan. Sebenarnya kalau secara akademik tidak ada masalah," ucap Syauqy menambahkan.

Dia mengungkapkan ketiga mahasiswa tersebut status registrasi pembayaran kuliah dan jejak akademiknya tidak bermasalah. "Kalau terkait masalah pribadi atau ada masalah dengan keluarga, atau masalah dengan teman dan sebaya, saya pikir kurang arif kalau informasi tersebut didapatkan dari Unpad. Karena itu bukan domain kami," tutur Syauqy.

Pihaknya mengimbau kepada mahasiswa Unpad, bila ada masalah, sebaiknya berkonsultasi kepada rekan sebaya, dosen dan kepala departemen yang ada di fakultasnya."Adalah hak bagi mahasiswa untuk menyampaikan masalah-masalah pribadinya. Menjadi tanggung jawab bagi kami, tenaga pendidik, dosen dan individu yang ada di Unpad adalah tugas kami untuk mendengarkan," kata Syauqy.

Sebelumnya, AH (21), mahasiswa Program Studi Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran (Unpad) ditemukan tewas gantung diri di indekosnya. AH nekat bunuh diri diduga karena cekcok dengan pacarnya.

Kasatreskrim Polres Sumedang AKP Dede Iskandar mengatakan dari hasil pemeriksaan AH sempat cekcok di whatsapp dengan pacarnya inisial NL. Pacarnya dan temannya NA lah yang pertama kali menemukan jasad AH. "Menurut keterangan pacarnya NL, sebelumnya ada cekcok dan memang mengirim lewat WA (Whatsapp) akan mengakhiri hidupnya," katanya via pesan singkat, Minggu (10/3/2019).

Jumat (8/3/2019), NL dan NA mendatangi indekos AH pukul 16.00 WIB di Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Kedatangan NL dan NA, karena korban tidak masuk kuliah dan tidak bisa dihubungi. Setibanya di indekos korban, NL menanyakan keberadaan korban kepada teman kos korban berinisial R. "Tetapi kamar dalam keadaan tertutup dan terkunci dari dalam, kemudian menanyakan kepada teman kos korban R dijawab tidak ketemu sudah dua hari," ungkapnya.

Karena penasaran, lantas NL mengintip ke arah jendela kamar korban. NL langsung kaget karena pacarnya itu tewas dalam keadaan gantung diri. "Karena penasaran pacarnya mengintip dari jendela ternyata kelihatan sudah menggantung dalam keadaan meninggal," ujarnya.

Mendapati korban gantung diri, lantas NL meminta tolong dan kamar kos korban didobrak oleh penjaga indekos. Tak hanya itu, seorang mahasiswa Universitas Padjajaran (Unpad) tewas gantung diri di indekosnya yang berada di Gang Dahlia I, Dusun Sayang, Kacamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Kapolres Sumedang AKBP Hartoyo mengatakan jasad korban pertama kali ditemukan pada Senin (24/12/2018) sekitar pukul 6.00 WIB. "Korban berinisial RWP merupakan mahasiawa Fakultas Perikanan dan Kelautan semester 13," kata Hartoyo via pesan singkat.

Mendapati informasi tersebut, pihaknya bergerak untuk melakukan penyelidikan. Setiba di TKP, anggota Polres Sumedang langsung mengumpulkan data dan fakta. "Korban di temukan pertama kali oleh pacar korban yang mau mengantar makanan," katanya.

Sesampainya di lokasi yang berada di lantai atas, saksi mencium bau tidak sedap di dalam kamar dengan keadaan terkunci di dalam. Saksi langsung melaporkan hal tersebut kepada penunggu indekos. "Saksi 2 (penunggu) berinisiatif membuka pintu dan ditemukan korban dalam keadaan tergantung di jendela kamarnya. Lalu lalu saksi 2 melaporkan kejadian ke Polsek Jatinangor," ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan terhadap saksi-saksi, korban diduga nekat bunuh diri karena memiliki masalah. Masalah itu kerap diceritakan korban kepada pacarnya. "Menurut keterangan dari saksi 1 (pacar korban) bahwa korban sering mengeluhkan terkait masalah keuangan keluarga dan skripsi tingkat akhir yang belum beres," ucapnya.

Setelah melakukan olah TKP dan pemeriksaan saksi-saksi, jasad korban langsung dibawa ke RS Sartika Asih sambil menunggu pihak keluarga.***

Komentar

Loading...