Breaking News

Aceh Utara Daerah Paling Rawan Konflik dan Kecurangan Pilkada

Aceh Utara Daerah Paling Rawan Konflik dan Kecurangan Pilkada
Dok. Modusaceh.co
Rubrik
Banda Aceh | Pakar Ekomoni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Dr. Amri, memprediksi daerah yang paling rentan terjadi kecurangan dan potensi konflik saat pilkada nantinya adalah daerah yang paling miskin di Aceh. Maka, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dan data dari Bappeda Aceh, daerah yang paling miskin di Aceh adalah Aceh Utara, diikuti oleh Aceh Timur, Bireun dan Sigli.

“Inilah daerah yang paling tinggi terjadi potensi konflik dan kecurangan pilkada nantinya,” ujar Amri saat bincang-bincang dengan MODUSACEH.CO, Selasa, (6/9/2016).

Menurut Amri, orang miskin adalah orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Berupa, makanan, perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Menurut standar Bank Dunia (World Bank) orang miskin adalah mereka yang hanya berpenghasilan satu dolar perhari. Sesuai data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, orang-orang ini diklasifikasikan dalam empat kelompok tingkat kemiskinan, masing-masing, masyarakat dengam tingkat kesejahteraan 10 persen terendah, 20 persen terendah, 30 persen terendah dan 40 persen terendah. Yang jika ditotal dari lima juta penduduk Aceh, masyarakat miskin di Aceh bisa mencapai 2,2 juta jiwa.

Namun yang sering dipublis hanya kisaran 17 persen, yang merupakan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan 10 persen terendah atau sangat miskin.

“Tapi, kalau mau jujur sebenarnya ada 2 juta lebih masyarakat Aceh miskin, inilah yang sangat rentan terjadi konflik dan kecurangan,” ujar Amri.

Amri menjelaskan, masyarakat miskin tersebut menumpuk di daerah pedesaan, dimana daerah pedesaan adalah lumbungnya pemilih saat pilkada. Mereka menurut Amri adalah masyarakat yang mudah untuk diprovokasi.

“Kenapa mudah diprovokasi, karena mereka lapar, kalau orang lapar tak perlu bicara panjang, mereka akan cederung melakukan apa saja asalkan dapat mengganjar lapar tersebut,” kata Amri.

Amri mengungkapkan, jauh-jauh hari ia telah memprediksi potensi konflik dan kecurangan pilkada tersebut melalui pendekatan kesejehteraan. Dan  hari ini, prediksinya tersebut sudah terlihat, seperti menurunkan baliho calon lain, menembak posko, ini baru tahap awal, nanti akan terjadi juga money politic, intimidasi dan sebagainya. Hal ini terjadi menurutnya, karena masyarakat miskin sangat erat korelasinya dengan potensi konflik dan kecurangan.

Namun kenapa yang muncul ke permukaan saat ini adalah Aceh Timur, bukan Aceh Utra, seperti penembakan Posko Nek Tu,  menurutnya karena wilayah Aceh Timur juga bagian dari Aceh Utara sebelumnya, dan yang terjadi konflik tersebut bukanlah Aceh Timur di daerah Langsa melainkan yang berdekatan dengan Aceh Utara.

“Jadi siapa yang bayar dia yang akan dipilih, bahkan jangan hanya masyarakat miskin, tingkat timses saja kalau perutnya lapar dia akan lari dari timses apalagi masyarakat, timses nggak ada uang lari dia, siapa saja, kalau logistiknya tidak cukup orang tidak akan mau,” ungkap Amri.

Menurutnya, kenapa potensi konfli kdan kecurangan ini terjadi dan memperalat masyarakat miskin, karena pilkada dipahami sebagai proses perebutan kekuasaan, padahal ini hanya proses pemindahan kekuasaan, ini adalah keharusan, namun karena salah pemahaman memantik potensi konflik dan kecurangan.***
 

Komentar

Loading...