Breaking News

Dua Tahun Kepemimpinan Abusyik- Fadhlullah T.M.Daud (Bagian Dua)

Abusyik Kurang Hargai DPRK Pidie dan Lemah Berkomunikasi dengan Berbagai Lini

Abusyik Kurang Hargai DPRK Pidie dan Lemah Berkomunikasi dengan Berbagai Lini
Gubernur Aceh melantik Bupati dan Wakil Bupati Pidie (Foto: Ist)

Kabupaten Pidie memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan memadai. Namun, tipikal seorang pemimpin tidak bisa menerima masukkan dari orang lain, membuat pembangunan di daerah ini menjadi stagnan.

"Menurut saya, Bupati Pidie Roni Ahmad tidak memiliki itikat baik dalam menjalankan roda pemerintahan," ungkap Direktur Pos Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusi (PB HAM), Pidie, Said Safwatullah pada media ini beberapa hari lalu di Sigli.

Menurut Said, kondisi ini terjadi, karena Roni Ahmad atau akrab disapa Abusyik tidak mengunakan dan memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) yang ada di Pidie dengan baik, sehingga terkesan roda pemerintahan berjalan secara suka-suka.

Misal, menempatkan seorang pejabat yang tidak sesuai disiplin ilmu. Ambil contoh, Kepala Bagian Humas (Kabag Humas), Sekretariat Daerah Kabupaten (Sekdakab), Pidie, justeru berasal dari pegawai Kementerian Agama dari Banda Aceh.

Bahkan yang bersangkutan tidak mengerti bagaimana ilmu Kehumasan dan Protekoler. Maklum, dia merupakan pegawai titipan sehingga muncul kesan di Pidie, tidak memiliki SDM Kehumasan. “Padahal tidak sedikit lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), kenapa harus pegawai pusat yang direkrut dan ini bentuk dari ketidak-becusan Bupati dalam menempatkan pejabat di lingkungan pemerintahannya. Saya pikir Bupati harus sekolah lagi biar tahu disiplin ilmu. Jadi, Bupati jangan mengabaikan masukan dari orang-orang berilmu," harap Said.

Anggota  Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK), Pidie, Anwar Sastra Putra alias Bulek, justeru mengaku sedikit geli dengan kepemimpinan Abusyik. Menurut dia, Abusyik kurangnya menghargai pendapat dan lembaga lain, khususnya DPRK.

20190725-bulek

Anggota  Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK), Pidie, Anwar Sastra Putra alias Bulek (Foto: Amiruddin)

“Setelah dilantik 17 Juli 2017, itulah yang pertama dan terakhir dia menginjak lantai Gedung DPRK. Sikap yang ditunjukkan itu sangat tak layak sebagai seorang pemimpin, apa lagi Bupati Pidie. Saya menilai, Abusyik tak memiliki rasa hormat terhadap wakil rakyat," ungkapnya.

Bulek mencontohkan, setiap ada sidang istimewa atau paripurna, Abusyik tak pernah hadir ke gedung dewan dan selalu diwakili Wakil Bupati Pidie  Fadhlullah T.M.Daud. Sementara dia lebih memilih untuk ke kebun pribadi.

“Harusnya dia hadir sebab menyangkut dengan penggunaan anggaran atau pada sidang Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ). Artinya, seorang Bupati tak layak jika tidak saling menghargai, sebab legislatif dan eksekutif harus sinergi dalam membangun daerah. Tetapi, sikap itu tidak ditunjukkan Abusyik. Dia tidak menghargai anggota dewan," kritik Bulek.

Itu sebabnya, Bulek berpendapat. Pemerintah Kabupaten Pidie dibawah kepemimpinan Abusyik sangat amburadul. Buktinya, saat pembukaan sidang Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ), Bupati Pidie tahun 2018. Pidatonya ditanda tangani Wakil Bupati Pidie Fadhlullah T.M.Daud. Bahkan, berstempel Gubernur Aceh.

“Ini sangat memalukan masyarakat Pidie. Karena sepanjang sejarah belum pernah terjadi, sehingga terkesan kinerja  pemerintah asal-asalan. Ini pelajaran terburuk bagi pemerinrah dan rakyat Pidie," tegas Bulek. Sebenarnya kata Bulek, Pidie menjadi barometer bagi daerah lain di Aceh. Namun, dibawah kepemimpin Abusyik sangat disayangkan, perjalanan pemerintahan seperti tak bertuan.

Mensikapi kondisi ini ujar Bulek, hampir semua masyakarakat merasa menyesal telah memenangkan dia pada Pilkada 2017 lalu. Sebab apa yang diharapkan masyarakat tidak berjalan sama sekali. "Dia tidak bisa berkomunikasi dengan segala lini. Bahkan saya terima informasi dari rekan-rekan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Pidie pun kurang baik," ungkap Buleg yang juga politisi Partai Aceh (PA).

Karena itu, sebagai wakil rakyat Pidie, Bulek mengaku sering mengingatkan agar Bupati tidak berjalan sendiri-sensiri. Sebab, membangun daerah butuh komunikasi dengan semua pihak, sehingga semua persoalan di Pidie bisa teratasi.

“Kami belum melihat program pasangan Abusyik-Fadhlullah T.M.Daud yang berhasil dan langsung menyentuh rakyat. Artinya apa? Yang dilakukan mereka masih sangat minim. Karena itu, sisa waktu tiga tahun ke depan, kami berharap ada perubahan. Saya heran saja melihat perjalanan pemerintah dibawah kepemimpinan Abusyik,” ungkap Bulek.***

Komentar

Loading...